Seperti Tak Pernah Belajar
“Kapan berita tentang gunung itu akan selesai?” tanya kawan saya yang sedang membaca koran. Tentu saja, saya tidak tahu jawabannya. Peristiwa meletusnya gunung berapi di Indonesia akhir-akhir ini merupakan peristiwa alam. “Seperti sebuah rangkaian musibah yang tiada putus-putusnya,” katanya, “setelah gempa di Jogja dan meletusnya gunung Merapi, kemudian disusul meluapnya lumpur Lapindo di Sidoarjo, disusul dengan meningkatnya aktivitas gunung Kelud, kemudian di susul anak Krakatau. Sebentar lagi mungkin banjir di beberapa daerah. Nyaris tiada henti.”
“Begitulah…,” kata saya memaklumi. Kita hidup di Indonesia yang memiliki pulau-pulau. Di samping lautnya yang luas, rangkaian gunung aktif juga banyak. Daerahnya mungkin persis seperti Jepang, tetapi kenyataan menghadapi musibah tidak seperti mereka itu.
“Mungkin kita masih maklum dengan peristiwa alam seperti gunung Kelud atau Krakatau. Tetapi banjir?” tanyanya.
“Kita harus tahu sebabnya,” kata saya.
“Jelas, penyebabnya adalah gundulnya hutan karena pembalakan liar. Akibatnya air yang turun tidak diserap oleh pepohonan. Belum lagi, daratan kita seperti lebih rendah dari sungai-sungai,” katanya.
“Mungin itu disebabkan oleh buang sampah sembarangan…” tambah saya.
“Nah itulah yang disayangkan. Pada saat musim kemarau, kita sering tidak peduli dengan sungai. Seolah-olah kubangan itu seperti tempat sampah yang selalu menampung kotoran. Kita mengira setelah air mengalir, sampah-sampah itu bisa dibawa ke hilir,” katanya penuh penyesalan. “Ah, lagi-lagi menyalahkan diri…”
“Kalau dipikir-pikir, peristiwa tersebut terdengar klise,” ujarnya kemudian.
“Klise bagaimana?” Saya heran.
“Ya, lagi-lagi menyesal belakangan. Padahal, kita sudah diajari dari kanak-kanak kalau pepohonan itu bisa melawan erosi. Bukankah itu termasuk pelajaran IPA dulu?”
Saya terdiam, mengingat-ingat.
“Mungkin kamu sudah lupa pelajaran dulu. Tetapi aku masih ingat betul kalau fungsi pepohonan selain mencegah erosi, juga mencegah banjir dan longsor. Bahkan saya masih ingat betul waktu menghafal dulu untuk menghadapi ujian IPA.”
Ah, kenapa pelajaran dulu hanya untuk hapalan? tanya saya dalam hati.
“Lihat ini,” katanya sambil menunjukkan sebuah koran dengan berita meningkatnya aktivitas anak Krakatau. “Kita bisanya cuma berharap. Padahal dalam menjaga alam kita sering teledor.”
Berharap Anak Krakatau Tak Seganas Ibunya, di sana tertulis.
Saya berpikir sejenak. Kalau sang anak punya ibu, lantas siapa ayahnya? Sedetik kemudian… Tak kuasa menahan tawa.
Thank you for reading this post. You can now Leave A Comment (0) or Leave A Trackback.
Post Info
This entry was posted on Friday, October 22nd, 2010 and is filed under Sosial, Thought.Pencarian untuk artikel Seperti Tak Pernah Belajar adalah : www.brandclothestore.com (2), Internet Cafe Prepaid Card (2), filmpormogratis (2), Fallout New Vegas SKIDROW info (1), anak yang tidak pernah belajar (1), gambar pohon natal (1), tips dan trik fallout new vegas pc (1), suraja.web.id (1),. You can Leave A Comment, or A Trackback.
Post Sebelumnya: Tandingi Pembakaran Alquran, Patrick Mahoney Bagikan Alquran »
Post Selanjutnya: Grant for Better Education »
- Unlimited Mail Storage for Yahoo Users Menjelang ultah nya yang ke 10 tahun pada bulan Mei 2007 ini, Yahoo mengumumkan akan memberikan unlimited email storage for
- Perempuan, Puisi dan Celetukan si Jugul Lagi chattingan ama yayang sambil liat-liat situs yang jualan couple t-shirt, rencana mau buat dipake waktu pre-wedding photo nantinya. Gak
- Kisah si Butet :) Alkisah, Butet si Gadis Cantik dari Batak akan menghadapi ujian semester. Agar bisa konsentrasi, dia memutuskan menyepi ke villanya di
- Nabung Plus Investasi Bagi pasangan yang baru menikah dengan kisaran gaji dibawah Rp.10 juta per bulan (asumsi: tinggal di kota besar), tentunya harus
- Ber Hosting Ria Seminggu ini kayaknya urusan cuman seputar hosting melulu setelah total sekitar 30 an lebih website harus saya pindahkan dari 3





