Indonesia Mengemis Kata “Maaf”
Koran Kompas hari ini (3 September 2007) hal.6 bertajuk “Jangan Lagi Mengemis Kata “Maaf” ditulis oleh Herry Tjahjono (Corporate Culture Therapist dan penulis buku The XO Way), dapat menjadi refleksi terhadap nasionalisme bangsa kita yang semakin diuji ambang kesabarannya. Mulai dari kasus TKI ilegal di Malaysia yang ramai diberitakan akan dipulangkan paksa beberapa tahun lalu, tindakan semena-mena para majikan Malaysia terhadap hak-hak pekerja kita, sampai kasus terakhir pemukulan terhadap wasit dari Indonesia karena “dianggap” TKI ilegal.
Kasus-kasus serupa juga bahkan terjadi terhadap para pahlawan devisa kita di beberapa negara lainnya seperti Arab Saudi. Dan ini merupakan simbol telak manusia Indonesia tanpa martabat di mata orang luar. Kasarnya, di mata para majikan Malaysia, orang Indonesia hanya dianggap “sekumpulan” bangsa TKI ilegal. Bahkan jika penampilan fisikal anda cenderung mirip TKI ilegal, sangat mungkin anda akan mendapatkan perlakuan kasar yang sama disana.
Reaksi keras pun bermunculan dari dari dalam negri, demo anti Malaysia berkobar dimana-mana, di salah satu demo bahkan para petarung silat kita bahkan menantang tarung terbuka dengan orang-orang Malaysia
Sweeping terhadap orang Malaysia di Indonesia pun dilakukan bahkan mengusir para atlet Malaysia dan berbagai aksi irasional dan subyektif lainnya. Reaksi masyarakat Indonesia menuntut adanya permintaan maaf dari Malaysia atas tindakan pemukulan tersebut.
Apa ada yang salah dengan permintaan itu?
Susah sewajarnya sebagai bangsa yang diakui sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan bermartabat, kita mendapatkan permintaan maaf tersebut tanpa harus diminta, asal Malaysia nya tahu diri saja
Secara simbolik Perdana Mentri Malaysia memang telah meminta maaf secara pribadi melalui telepon langsung ke SBY. Perlu dipertegas lagi, permintaan maaf tersebut disampaikan secara pribadi, dan tentunya diterima dengan senyum lebar oleh beliau
Tapi apa masih pantas kita terus-terusan meminta adanya permintaan maaf dari Malaysia setiap kali bangsa kita disakiti? Sudah saatnya kita berpikir lebih “out of box” lagi, yang kita perlukan adalah respect dari mereka, rasa hormat dari bangsa Malaysia. Dan untuk itu pemimpin kita harus berpikir dan bersikap lebih terhormat lagi dalam menjalankan kepemimpinan di negara ini.
Bangsa kita hanya akan dihormati jika kita telah dapat menjadi tuan di negeri sendiri, sebuah refleksi atas krisis kepemimpinan di negara ini.
Thank you for reading this post. You can now Read Comments (2) or Leave A Trackback.
Post Info
This entry was posted on Monday, September 3rd, 2007 and is filed under Politik, Sosial, Thought.Pencarian untuk artikel Indonesia Mengemis Kata “Maaf” adalah : kata-kata maaf (2), KELANJUTAN DINAR IRAK 14 SEPTEMBER 2009 (1), hidup jewel lullaby adalah (1), indonesia mengemis (1), kata kata maaf (1), lullaby adalah (1), tentang kata maaf (1), penertian tki ilegal (1), artikel gambar jangan lagi mengemis kata maaf (1), pencairan paypal ilegal (1),. You can Leave A Comment, or A Trackback.
Post Sebelumnya: PANDI Mailer-Daemon »
Post Selanjutnya: Optimisation Webinar Invitation from Google Adsense »
- Rasa Sayange, Lagu Kita! Tak cukup sepertinya Malaysia merongrong kehormatan negara kita dengan kasus-kasus pelecehan terhadap para TKI (baca Indonesia Mengemis Kata “Maaf”), kali
- Forum Investasi Indonesia Launched Beberapa saat yang lalu, saya dan 2 orang master investasi Indonesia dan seorang webmaster ASP lainnya sempat berkumpul di sebuah
- Full Paypal Feature Support for Indonesia Finally, this is what I've been waiting for so looooong.... :) Indonesia now served by Paypal with full feature support!
- NAMRU, Dinas Intelijen Berbulu Riset Kesehatan? Ternyata semangat nasionalis terlalu dominan dalam menimbang keputusan mengenai kelanjutan berdirinya NAMRU di Indonesia, meninggalkan pertimbangan semngat keilmuan dan nilai-nilai
- Parked Closed for Indonesian Applicants Sorry to hear that :( Kemaren abis ngereferensikan satu kandidat parked account ke si Account Manager di Parked, dibalas dengan





September 8th, 2007 21:27
Hmm… bener banget kie…. menjadi tuan di tanah sendiri. Tapi untuk satu dan beberapa kasus ada indikasi bahwa kita sebenernya gak iso idup tanpa “dia”. Sah aja! Pernyataan itu menurut Saya sebagai lacur public yang cuman bisa baca, denger, nonton atau surf geblek.
Anyway, syukurin apa yang kita (Indonesia) punya dan berusaha mencapai something apa adanya thats the wayout.
October 8th, 2007 22:00
[...] Malaysia merongrong kehormatan negara kita dengan kasus-kasus pelecehan terhadap para TKI (baca Indonesia Mengemis Kata “Maaf”), kali ini bahkan lagu daerah kita pun direbut oleh mereka! Lagu Rasa Sayange yang jelas-jelas [...]